Showing posts sorted by relevance for query mobil-murah. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query mobil-murah. Sort by date Show all posts

Mobnas ..?

Ketika Pemerintah SBY mengeluarkan hukum Mobil murah maka teman saya di China bilang bahwa pemerintah Indonesia melaksanakan kesalahan fatal. Bagaimana mungkin Pemerintah menawarkan kemudahan pengurangan bea masuk bagi pemain usang membuat kendaraan beroda empat murah. Mobil murah Ini sama saja mematikan semua upaya untuk kemandirian industry otomotif nasional. Pemain gres ( newcomer ) menyerupai ESEMKA, Maleo dan Artikel Babo akan kandas sebelum berlayar. Mereka mustahil bisa bersaing dengan yang sudah usang dan maju dalam bisnis otomotif,seperti Daihatsu Ayla dan Toyota AgyaSeharusnya harga murah itu bukan alasannya tarif tapi memang alasannya kemandirian. Tingginya local content. Pemerintah harus memiliki visi kemandirian dibidang industry otomotif. Mengapa? alasannya industry otomotif itu sangat strategis. Ini bukan hanya berafiliasi sarana mobilisasi orang tapi juga barang. Ketergantungan akan tekhnologi ini akan membuat Negara bau tanah dalam segala hal, termasuk bau tanah akan belanja devisa. Seharusnya yang mendapatkan kemudahan tarif itu ialah newcomer dalam kegiatan kendaraan beroda empat nasional. Mengapa? Setiap Industri kendaraan beroda empat selalu awalnya mereka mengandalkan harga murah untuk menarik konsumen, menyerupai Jepang awal tahun 70an dan juga Korea awal tahun 80an, dan China awal tahun 90a. Harga murah itu alasannya Negara menawarkan insentip berupa tariff pajak, subsidi bunga, kemudahan sketsa pembiayaan dan tentu perlindungan pasar dimana pemerintah akan menjadi salah satu buyer melalui APBN. Dengan kemudahan ini dibutuhkan Mobnas akan berkembang hingga saatnya ia bisa bersaing bebas dipasar domestic maupun international.

Kebijakan semacam Timor tidak bisa lagi diterapkan alasannya akan berhadapan dengan WTO. Pemerintah tidak bisa memproteksi pasar Mobnas dengan menghalangi merek lain masuk melalui kebijakan tariff bea dan pajak. Tidak bisa! Yang akan dilakukan oleh Pemerintah dalam mendukung kegiatan kendaraan beroda empat nasional ialah menghentikan kegiatan kendaraan beroda empat murah  Selanjutnya mungkin bisa menjiplak China, dimana diawali dengan pembangun supply chain industry ( SCI ) yang kokoh dan luas. Caranya? pemerintah membuat hukum disamping mengharuskan pemegang merek untuk mendapatkan SCI dalam negeri juga berhak mendapakan insentif pajak yang besarannya tergantung local content yang ada pada kendaraan. Pemerintah juga menyediakan dana riset dan pengembangan untuk membantu para SCI biar mereka bisa memenuhi standard mutu yang ditetapkan oleh principal. Dengan demikian, semakin tinggi penjualan kendaraan semakin besar kebutuhan akan SCI sehingga bisnis SCI akan berkembang luas. Pada ketika inilah akan muncul kreatifitas pengusaha otomotif untuk memanfaatkan SCI yang ada , untuk membuaat merek sendiri dengan design sendiri. Pihak pemegang merek tidak bisa protes jikalau ada perusahaan lain , merek lain mendapatkan layanan SCI. Karena keberadaan SCI bukanlah afiliasi dari pemegang merek, bukan pula anak perusahaan yang menyerupai kini ada di Indonesia. SCI yang ada ialah perusahaan orisinil China yang tidak ada kaitannya dengan asing. Di China sekarang ada ratusan merek local maupun absurd yang saling berkompetisi dengan sehat dan alhasil membentuk segmen pasar sendiri sendiri.

Artinya untuk membangun kendaraan beroda empat nasional tidak perlu menawarkan fasiltas menyerupai Mobnas Timor kurun Soeharto yang cenderung korup. Pemerintah cukup membuat kebijakan nasional dibidang otomotif biar mendorong terbentuknya SCI didalam negeri tanpa afiliasi asing. Produk dari SCI ada tiga yaitu Platform, Mesin dan Sistem kontrol. SCI itu tahap awal tidak perlu sampai  kepada mesin tapi cukup sebatas Platform (Chasis, Frame Body). Apabila perusahaan SCI sudah bisa membuat platform dengan tingkat presisi tinggi sesuai standard international maka sudah bisa dibentuk kendaraan beroda empat nasional dengan merek sendiri, menyerupai ESEMKA dan lain lain. Karena dalam industry otomotif yang dipatenkan ialah platform dan merek. Soal mesin ada beberapa pilihan. menyerupai mesin piston, mesin listrik, mesin hybrid. Beberapa brand mesin memiliki karakteristik yang sama, yang berbeda hanyalah cover brand nya dan sistem control CU, EFI dan Artikel Babo. Dengan membuat system kontrolnya sendiri maka sudah boleh  memberi cover merek sendiri pada mesin walau mesin itu dipasok dari China, Jepang, Korea, Malaysia. Ini bukan hal yang sulit dan dalam jangka panjang akan tumbuh banyak sekali merek Mobnas dengan harga murah dan ini akan mendorong tumbuhnya bisnis SCI untuk mesin dan system control nya dan otomatis akan tumbuh ribuan supply chain spare part mesin. Maka hanya problem waktu kita akan punya 100% kendaraan buatan Indonesia.Namun untuk itu butuh proses waktu yang tidak sebentar. Selagi  pasar mendukung , bisnis akan menyesuaikan sendiri dengan kebijakan Negara.

Jadi mobnas itu bukan sekedar merakit dan membuat unit mobil-nya saja (prototype), atau membuat kendaraan beroda empat dengan modifikasi kendaraan beroda empat yang ada atau hanya merubah bodynya seperti Karoseri atau hanya sekedar mengganti mesin menjadi motor listrik saja. Bukan relokasi pabrik perakitan maupun sparepart. Bukan! Mobnas ialah industry kendaraan yang bertumpu kepada kekuatan SCI dalam negeri yang sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan lepas dari efek ATPM. Bukan hal yang sulit merealisasinya.Yang sulit itu ialah bagaimana pemerintah konsisten dengan kebijakan kemandirian industry MOBNAS , dan tidak goyah walau diloby oleh para Principal merek dari Toyota, GM,Datsun, BMW dan lain lain. Sudah culup lebih dari 30 tahun  ATPM bercokol di Indonesia namun tetap hanya menyebabkan Indonesia sebagai pasar. Transfer technology tidak berjalan sebagaimana aturannya. Berita kunjungan Jokowi ke Malaysia dan termasuk menghadiri penandantanganan MOU antara PT Adiperkasa Citra Lestari dibawahi AM Hendropriyono dengan Proton Holding Bhd, ditanggapi oleh sebagian orang dengan skeptis khususnya GAIKINDO. Karena mereka membayangkan kegiatan Mobnas akan sama dengan kegiatan Mobnas kurun Soeharto dengan Mobil Timor. Saya rasa ini jauh sekali. Kerjasama dengan Proton ialah sinyal kepada pemain otomotif bahwa hanya problem waktu semua principal harus mengikuti rujukan kerjasama yang dibentuk oleh Proton,yaitu mendukung kemandirian industry otomotif yang berbasis kepada kekuatan SCI dalam negeri.

Kita harus merebut technology. Kita punya bargain position yang besar. Apa itu? Kita ialah salah satu konsumen terbesar otomotif. Ini bisnis multi billion dollar. Mereka tidak punya pilihan kecuali ikut hukum main kita. Kita lihat nanti …

Sumber https://culas.blogspot.com/

Mobil Murah...?

Kemarin saya bertemu dengan teman lama. Dia kini punya business di China tepatnya di kota Hobey. Sejak tahun 2000 usahanya dibidang pembuatan auto parts kendaraan berkembang pesat. Permintaan terbanyak yaitu memasok industry automotive di china dan sebagian di eksport.  Saya katakan bahwa sudah saatnya ia membuka  usaha yang sama di Indonesia. Karena kini pemerintah sedang menggalakan Mobil murah atau disebut dengan LCGC ( Low cost green car ). Menurutnya memang ada tekhnologi yang memungkinkan itu murah tapi bukan “value".Itu hanya design engineering  dimana kendaraan itu dibentuk dari komponen ( spare part ) second grade , bukan yang high quality atau special quality untuk jenis kendaaan itu. Ya,  tetap dalam standard kondusif untuk dikendarain nanmun niscaya tidak nyaman. Dan lagi LCGC didukung dengan kebijakan bebas pajak dari pemerintah tentu saja murah. Tapi kalaulah kebijakan ini dibentuk dengan tujuan untuk memastikan 99% local content maka itu sangat baik karena  akan berdampak kepada ekspansi investasi dibidang auto part , engine dan manufactur. Ya teman ini mengacu dengan kebijakan pemerintah china dalam industry otomotive.

Bagaimana dengan kebijakan China membangun industry automotive. Tanya saya. Menurutnya Indonesia lebih dulu start membangun industry automotive nya. Design kebijakan Industry automotive China hampir sama dengan kebijakan awal Indonesia. China mulai membangun industry otomotiv secara modern semenjak tahun 1994 dan tidak pernah dirubah hingga kini. Saya teringat dengan kebijakan Indonesia dibidang otomotive atau apa saja yang selalu berubah rubah. Apa kebijakan itu? 1. Membangun Industry  auto parts ( onderdil 2. Membangun industry kendaraan penumpang ( bus besar /kecil/sedang). 3. Membangun industry angkutan barang ( truck ) ukuran besar /menengah/kecil. 4. Membangun  industry roda dua untuk masyarakat pedesaan dan kota kecil. 5.  Industry pendukung peralatan kendaraan. Kelima kebijakan ini yaitu kunci pembangunan industry automotive China.  Target dari kebijakan ini yaitu kemandirian dibidang design, technology dan product. Harus 100   % local content untuk semua industry otomotive apapun mereknya. China harus menjadi Global supply chain untuk Industry automotive dunia. Ambisi ini dilaksanakan dengan kegiatan yang terpola dan konsisten. Hasilnya kini terbukti China berdikari dibidang industry automotive.  Walau banyak merek kendaraan gila menyerupai Toyota, VW, Audi dll dijalanan namun itu semua 100 % local content yang dihasilkan oleh banyak sekali industry supply chain dibidang engine , auto parts, component body, dan lain lain.

Memang kendaraan merek gila di China  harganya relative  mahal bila dibandingkan merek local karena  kebijakan pajak yang tinggi dari pemerintah. Tapi untuk kendaraan merek local yang pasarnya menengah bawah, pemerintah mengurangi pajaknya. Untuk industry  automotive yang memproduksi kendaraan angkutan barang dan penumpang, pemerintah meng nolkan pajaknya , dan bahkan pemerintah memperlihatkan insentip restitusi pajak bila perusahaan itu mengeluarkan dana untuk riset. Pemerintahpun menciptakan kebijakan bahwa belanja APBN haruslah mengutamakan kendaraan buatan local. Dampaknya  Indutry automotive china dibidang angkutan barang dan penumpang  tumbuh denga cepat. Boleh dikatakan china sangat berdikari dibidang ini. Bahkan bisa bersaing dipasar dunia. Anda bisa bandingkan kualitas bus way buatan china dan buatan Korea. Kualitasnya jauh lebih baik dari buatan Korea. Itu sebabnya pasar Afrika dan Amerika latin sangat menggemari bus dan truck buatan china, disamping murah kualitas juga bagus.  Dampak lebih luas dari kebijakan ini yaitu efisienya business angkutan barang dan penumpang sehingga dalam skala makro bisa menekan biaya logistic nasional, yang tentu secara system menciptakan Efisiensi pruduksi china semakin besar lengan berkuasa daya saingnya.  Artinya semakin besar lengan berkuasa daya saing suatu Negara semakin efisien Negara itu, dan semakin unggul dalam putaran waktu.

Saya terpesona mendengar urain teman itu. Tapi bagaimana caranya china bisa menciptakan kebijakan ditahun 1994 itu bisa efektif? Bukankah china butuh technology dan dana dari Asing. Bagaimana? Saya ingin tahu ini lantaran pada awalnya keadaan china sama dengan Indonesia termasuk tertinggal dalam industry automotive. Teman itu menyampaikan bahwa china punya pasar otomotiv terbesar didunia. Potensi inilah yang ditawarkan kepada vendor dan investor asing.  Kebijakan transfer technology yaitu harga mati. Ini diawasi dengan ketat biar jadwal transfer technology sanggup terealisasi sempurna waktu. Hasil resapan technology gila itu, didistribusikan oleh forum riset china keseluruh pengusaha local biar mereka ambil potongan dalam industry supply chain. Dengan kontribusi supply chain yang besar lengan berkuasa maka industry automotive local dengan merek local pun mulai bermunculan. Lambat namun niscaya merek local berhasil  menggeser merek gila dipasar domestic. Bagaiman dengan Indonesia, tanyanya. Ya, bila ukuran kemandirian industri otomotif diukur dari keberadaan pabrik manufaktur atau perakitan kendaraan bermotor, Indonesia boleh berbangga lantaran banyak sekali merek kendaraan ternama dunia telah mendirikan pabrik manufaktur dan atau perakitan di tanah air. Namun bila ukuran kemandirian tersebut dilihat dari sisi penguasaan teknologi beserta keleluasaan dalam pengembangannya, kenyataan memperlihatkan bahwa banyak sekali industri otomotif yang ada ketika ini secara secara umum dikuasai masih dikendalikan oleh tiga pemain utama otomotif dunia yaitu Jepang, Eropa, dan Amerika. Raksasa otomotif dari Negeri Sakura, yakni Toyota, Mitsubishi, Suzuki, Isuzu, dan Daihatsu, Honda yaitu lima besar industri otomotif Indonesia ketika ini. 

Jadi memang konsistensi kebijakan dengan visi kemandirian serta didukung oleh nasionalisme yang tinggi dari rakyat dan elite politik yang menciptakan apapun kebijakan memang mensejahterakan rakyat, bukan mensejahterakan asing  bersama agent nya….Ya, China berhasil , indonesia gagal lantaran problem konsistensi kebijakan. Indonesia tidak pernah bisa konsisten. Mengapa ? tanyanya kepada saya. Saya hanya melongo lantaran hampir semua pemimpin Indonesia bisa dibeli dan kebijakan bisa dirubah sesuai kehendak investor dan vendor. Setelah reformasi harapan kemandirian semakin jauh dan jauh. TEXMACO dan TImor sebagai pionir industri otomotif nasional  sudah dibiarkan mati begitu saja. BUMN seperti PT INKA, PT Bahana dan PT Boma Bisma Indra dibonsai biar tak berdaya menjadi leading insdustri otomotif nasional. ESEMKA yang didukung oleh Jokowi kandas oleh test kelayakan dari Kementrian Perindustrian. KIta hanya jadi konsumen dan buruh...itu saja. Inilah nasip dipimpin oleh orang kolot bermental bedebah...

Sumber https://culas.blogspot.com/

Alternatif Strategi Bisnis

Hallo guys???
Apa kabar kalian semua ?
Kembali lagi ama gue pajar sidik, Kali ini gue bakalan berbagi materi tentang pelajaran ekonomi yaitu tentang Alternatif strategi bisnis. Yo let's see!

Perubahan-perubahan di lingkungan prusahaan mengharuskan prusahaan prusahaan untuk senantiasa memperbaharui strateginya. Misi prusahaan harus ditinaju ulang. 
Berdasarkan analisis lingkungan dan penilaian diri prusahaan, misi suatu prusahaan perlu direvisi atau diperbaharui. Misi tersebut berkaitan dengan :
1. Produk dan pelayanan yang disediakan, mungkin ditambah atau dikurangi.
2. Jenis pasar yang dilayani, mungkin pasar lokal, nasional, atau internasinal.
3. Fungsi dan teknologi, cara prusahaan menciptakan manfaat bagi para konsumennya.
Dengan mempertimbangkan ketiga hal tersebut, prusahaan mempunyai alternatif-alternatif yang strategi, yaitu:
1. Strategi Stabilitas
2. Strategi Expansi
3. Strategi Penciutan

a. Strategi Stabilitas
Strategi stabilitas adalah strategi yang melayani masyarakat dengan menyediakan produk atau jasa.
Strategi stabilitas diterapkan agar prusahaan dapat meningkatkan laba dan melakukan efesiensi operasi, mengubah kemasan, atau menetapkan harga baru.
Alasa prusahaan memilih alternatif strategi stabilitas adalah :
a. Prusahaan berjalaln baik atau berhasil baik dengan cara-cara yang ada.
b. Resiko kegagalan strategi stabilitas kecil.
c. Lingkungan tempat prusahaan beroperasi relative stabil, atau hampir tidak ada ancaman serius terhadap kelanagsungan prusahaan.

b. Strategi Expansi
Prusahaan yang menerapkan strategi expansi melayani masyarakat dengan menyediakan produk dan jasa yang lebih berfareasi, memperluas pasar dan teknologi yang lebih maju. Dengan harapan dapat meningkatkan penjualan. Dengan kata lain, prusahaan menganalisis misi prusahaan dan selain itu merumuskan kembali lingkup kegiatan bisnisnya.
Prusahaan memilih alternatif strategi expansi karena alasan sebagai berikut :
a. Kalangsungan hidup prusahaan di lingkungannya relative labil. Atau, ada ancaman besar terhadap kelangsungan prusahaan jika dia tidak melakukan expansi.
b. Masyarakat akan memperoleh manfaat yang lebih besar dari strategi expansi prusahaan.

Strategi expansi dapat dilakukan secara internal dan dapat pula secara external. Expansi internal dilakukan dengan meningkatkan penjualan dan pangsa pasar bagi jenis produk yang sekarang sudah ada. Selain itu, prusahaan melakukan prubahan harga dan melakukan promosi, untuk menjangkau konsumen baru dan mempertahankan konsumen lama. Misalnya, minuman pocari travail dulu sekarang dikenal masyarakat karena dilakukan sebagai minuman bagi olahragawan, minuman tersebut sekaran dikenal luas masyarakan sebagai minuman untuk mengganti cairan, terutama setelah berpuasa seharian di bulaan ramadhan. Strategi expansi internal cocok untuk prusahaan yang sejak semula pangsa pasarnya kecil. 

Expansi external adalah expansi yang melibatkan pihak lain atau prusahaan lain. Expansi external cocok bagi grup prusahaan yang mempunyai banyak anak prusahaan. Expansi external sering dinyatakan ke dalam istilah-istilah lain, yakni akuisisi, marger, atau konsolidasi. Namun, ketiga istilah tersebut dinyatakan saja sebagai penggabungan prusahaan (marger) oleh orang awam. 
Expansi external dilakukan dengan cara membeli prusahaan. Prusahaan tertentu atau membeli prusahaan lain dengan alasan-alasan sebagai berikut :
a. Bagi prusahaan yang terdaftar di bursa efek, penggabungan prusahaan dapat memberi kesan bahwa prusahaan tersebut memiliki modal yang kuat. Kesan tersebut dapat mendorong kenaikan harga saham di bursa efek.

b. Meningkatkan pertumbuhan penjualan dan pangsa pasar.

c. Melakukan investasi adalah cara yang lebih baik dari pada harus melakukan expansi sendiri. Artinya, mengambil prusahaan yang sudah ada biasanya lebih menguntungkan dari pada mendirikan prusahaan yang sama sekali baru. Prusahaan yang sudah ada tersebut sudah mempunyai pengalaman yang cukup lama. Adapun prusahaan baru bersifat coba-coba sehingga resiko kegagalannya besar.

d. Mebuat stabil laba dan penjualan. Dalam setiap tahunnya, suatu prusahaan mempunyai dimana saat saat penjualan tinggi. Namun, di saat lain penjualannya rendah. Misalnya, prusahaan minuman es mempunyai penjualan yang tinggi di musim kemarau. Sebaliknya, prusahaan payung memiliki penjualan yang tinggi di musim penghujan. Bila kedua prusahaan tersebut digabung, maka penjualan akan terus tinggi sepanjang tahun. Pada musim kemarau, tenaga kerja dikerahkan untuk memproduksi es,  sedangkan menjelang musim penghujan, tenaga kerja dikerahkan untuk memproduksi payung.

e. Mengurangi persaingan. Misalnya, PT Astra international memproduksi berbagai merek mobil. PT Astra mendapat saingan yang hebat dari mobil timor yang harganya lebih murah. Untuk menghilangkan persaingan , PT Astra mengambil alih PT Timor Putra Nusantara (Contoh Fiktif).

f. Untuk mendaptkan sumber daya yang baik. Misalnya, suatu prusahaan besar bidang eletronik mengambil alih prusahaan kecil yang mempunyai tenaga-tenaga ahli yang sangat inovatif. Tenaga-tenaga ahli prusahaan kecil tersebut ditampung untuk memajukan prusahaan besar tersebut. Hal ini sering disebut juga hubungan kemitraan. 
3. Strategi Penciutan
Penerapan strategi penciutan bagi prusahaan berarti mengurangi jenis produk, mengurangi pasar, atau mengurangi fungsi dan teknologi. Selain itu, dengan berbagai pengurangan tersebut, prusahaan dapat menurunkan arus kas keluar.
Prusahaan mililih strategi penciutan dengan alasan :
a. Prusahaan tidak berjalan dengan baik
b. Lingkungan sangat menghemat bisnis prusahaan
c. Ada peluang lebih baik di tempat lain atau di bidang usaha lain.
Penciutan usaha dapat dilakukan dengan menutup begitu saja prusahaan tertentu. Penciutan dapat pula dilakukan dengan menjual anak prusahaan tertentu ke grup prusahaan lain. Strategi ini dilakukan bila keadaan prusahaan sudah sangan memprihatinkan dan usaha-usaha pembenahan sudah tidak mampu lagi memberikan dampak.
Alasan penjualan prusahaan oleh pengusaha tidak hanya bertujuan untuk penciutan prusahaan karena ada alasan-alasan lain yang juga penting. yaitu :
a. Meningkatkan nilai saham pemilik
b. Meningkatkan pertumbuhan penjualan dan pangsa pasar.
c. Mengefesiensi sumber daya
d. Menambah jenis produk 
Nah segini dulu ya artikel saya kali ini teman-teman. Artikel ini saya ambil dari buku Modul Ekonomi Klompok Bisnis & Manajemen karangan Drs. Maksum Habibi dan M. Gunadi S.E.
Akhir kata saya ucapkan wassalamualaikum wr. wb.

Memburu Harta (6)

Ketika hingga di apartement Ester, waktu membuktikan pukul sepuluh malam. Ester membuka pintu dengan wajah kawatir alasannya yakni melihat wajahku keruh. Aku membuka jas biar tubuhku menjadi segar. Udara terasa panas sekali walau cuaca di luar dingin. Ester pergi ke ruang minibar mengambil minuman untukku. Dia mengulurkan segelas teh hangat sebelum menyapa, “ada apa, Jak?”
“David menolak secara halus. Dia menunjukkan solusi gres untukku,” jawabku sembari menghempas badan ke sofa. Ester duduk di sampingku sambil memegang kerah bajuku, memperhatikan dengan seksama. Di wajahnya, ada raut tidak percaya. “Tadi siang ia menelephonku. Katanya, ia sangat tertarik dengan kamu, Jak. Dia ingin bermitra dengan dengan kamu. Kenapa kini berubah?”
“Dia ingin mengakibatkan saya sebagai proxy.”
“Apa itu salah?” Ester mengerutkan kening.
“Tidak salah. Tapi bukan yang saya mau untuk menuntaskan kasus clients-ku.”
“Jaka” sapa Ester lembut. “Bolehkah saya memberi saran?” sambungnya.
“Silahkan.”
“Aku menginginkan yang terbaik untukmu. Kamu yakni sahabatku.  Kamu punya semua potensi untuk jadi orang hebat. Bahkan sanggup menjadi penakluk dunia. Kamu pekerja keras dan cerdas. Mengapa kau tolak tawaran  David?” 
“Ini bukan soal saya tapi Budiman. Soal sahabatku!”
“Lantas?” Ester tetap tidak memahami sikapku. 
“Cobalah mengerti. Budiman sahabat terbaikku. Budiman, ketika ini sedang di ambang kehancuran. Hutang-hutangnya membengkak jawaban krisis mata uang. Perusahaannya pun terancam di lelang.  Aku sudah menganggap Budiman sebagai saudara sendiri, bahkan lebih dari sahabat. Sekian usang kami berteman, sudah sangat banyak kebaikan yang pernah kuterima. Walau Budiman telah menjadi konglomerat namun tegur sapa dan silahturahmi diantara kami tidak pernah putus. Ini sebuah unconditional friends. Dalam segala suasana, dalam segala kondisi.
Saat malapetaka Mei 1998 menghantam, perjuangan Budiman limbung dengan beban hutang yang semakin membengkak terkerek perubahan kurs. Kala itu Budiman sempat berharap keadaan akan segera pulih. Tapi setahun berlalu, ternyata keadaan justru semakin memburuk. Sebagian besar perusahaannya terpaksa masuk ke dalam daftar yang diserahkan perbankan untuk Otoritas Penyelesaian Utang.
Dia pun tak menyerah. Berjuang keras demi mendapat proteksi pemerintah berupa dispensasi hutang melalui sketsa hair cut dan reschedulling.  Aku yakin, saya sanggup membatunya. Karena saya sahabatnya yang paling mengeti dia. Aku tidak mau nasib Budiman menyerupai yang lain. Yang akirnya perusahaan di lelang. Kamu tahu  sebagian besar lelang itu pemenangnya bukanlah orang yang berpengalaman dalam bidang bisnis. Mereka yakni kumpulan petualang yang mendapat kepercayaan dari pihak asing. Para petualang, anggota dewan dan mereka-mereka yang merasa berjasa atas lahirnya periode reformasi. Berbaur dalam pesta pora sebagai makelar dan menjual seluruh aset negara dengan harga murah kepada pihak asing.
“Ok. Aku mengerti, Ja. Tapi bagaimana dengan hidupmu? Apakah kau tidak ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih impian? Ayolah, Sayang. Jangan terlalu keras dengan dirimu sendiri. Cobalah untuk melihat kenyataan.  Saat ini yakni periode untuk kau tampil menggantikan dia.  Kamu selamatkan usahanya dan kau ambil sahamnya. Beri ia golden share sebagai kompensasi.” Kata Ester dengan lembut.
“Terima kasih untuk kepedulianmu, Ester. Maaf, saya tetap dengan sikapku. Mohon dukung aku, Ester. Kamu kan sudah kenal saya semenjak tahun 93. Sampai kini telah delapan tahun persahabatan kita, itu lebih dari cukup untuk saling memahami?” 
Ester terdiam. Dia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata. Dia tidak tidur tapi berpikir ihwal sesuatu entah apa. Tapi yang jelas, Ester sangat lembut memperlakukanku.  Kami jarang sekali bertengkar dengan bunyi keras. Bila kami sudah dihadapkan pada perbedaan, hingga tidak menemukan titik temu, maka kami akan membisu untuk beberapa saat.  Berharap dengan berlalunya waktu, kami sanggup menemukan kebenaran sikap  masing-masing dan memakluminya.
“Aku lelah sekali. Aku harus kembali ke hotel.”
Ester membuka matanya, ”Tidurlah di sini. Besok kita bicarakan duduk kasus kamu. Kan besok hari libur nasional?  Tidak ada yang harus dikerjakan,” katanya lembut sambil memegang pipiku. “Aku ambilkan selimut untukmu ya?” Ester pergi beranjak dari sofa dan kembali lagi dengan selimut tebal untuku. Malam itu saya tidur di sofa.
“Good nite, Honey.” Ia mengusap wajaku dengan tersenyum.

***
Pagi harinya saya terbangun alasannya yakni dikejutkan  oleh kesibukan Ester di dapur. Dia sedang memasak untuk sarapan pagi. Ketika saya hingga di  dapur ia menoleh ke arahku dengan senyum indahnya. “Good morning, Jaka. Mandilah dulu, sebentar lagi sarapan  pagimu sudah tersedia.” Aku masuk ke kamar Ester untuk memakai kamar mandinya. Di meja kerjanya, nampak laptop masih menyala dengan wallpaper photo kami di Bali. Aku tersenyum meliat photo itu. 
Di meja makan, Ester berceloteh, “aku ada usul! Apakah  mungkin sanggup credit line dari bank di Jakarta?” 
“Engga mungkinlah. Bank mana yang  mau menunjukkan credit kepada Budiman? Dan lagi Indonesia sedang dilanda krisis. Financial  resource kering.” Jawabku dengan bunyi tertekan.
“Tapi saya sanggup informasi  dari temanku di Eropa. Katanya ada perusahan  milik Jenderal mantan menantu orang nomor satu, yang  mendapat kemudahan kredit dari bank milik pemerintah. Kredit ini dipakai untuk mengambil alih perusahaan kertas yang juga dimiliki oleh mantan kroni penguasa itu. Cara mereka mengambil alih melalui bail out hutang di bank yang juga milik pemerintah.” 
“Bukankah pengambil alihan dihentikan dengan sketsa LBO, atau pengambil alihan dengan memakai utang Bank? Apalagi dikaitkan dengan berutang kepada bank milik pemerintah.” Kataku
“Benar. Tapi sketsa yang dibentuk yakni bank pemerintah hanya sebagai channeling bank atas pelepasan non cash loan dari bank di Eropa.” 
“Apa yang kau maksud kemudahan non cash loan?“
“Fasilitas kredit dalam bentuk SBLC atau bank  garansi.”
“Jadi bagaimana settlement  dengan bank milik pemeritah?”
“Bank di Eropa mengirim SBLC kepada bank milik pemerinntah dan kemudian SBLC itu, alasannya yakni sifatnya transferable, maka sanggup dijual kepada pihak lain. Dalam hal ini SBLC di transfer ke singapore. Bank di Singapore mentunaikan SBLC itu untuk kepentingan bail out utang sebagai cara pengambil alihan perusahaan  yang bergerak dibidang industry kertas dan hutan tanaman industry.
“Mengapa bank di Eropa mau menunjukkan credit berupa Non cash loan?”
“Karena kegiatan pengambil alihan industry kertas itu punya exit taktik yang berpengaruh dan aman. Disamping itu, bank milk pemerintah sebagai channeling bank, bersedia untuk menjamin sketsa ini dengan menunjukkan confirmation stop loss guarantee kepada bank penerbit SBLC. Makara kondusif sekali.”
“Wow! Hebat sekali sketsa ini. Artinya jikalau pihak debitur default maka resiko ditanggung oleh channeling bank. Luar biasa!”
“Tepat sekali!” Seru Ester, “bisakah ini diterapkan untuk jalan keluar penyelesaian utang Budiman?”
 “Bisa saja. Tapi, Budiman bukan jenderal, Sayang. Engga mungkin!”
“Oh begitu?” Seru Ester. “Kalau bank local tidak mungkin. Bagimana jikalau kau coba tarik kredit dari bank di Singapore?”
“Apa jaminannya?”
“SBLC.”
“Dari mana dapatkan SBLC?” 
Ester mengambil mangkuk sop ayam yang sudah kosong dari hadapanku dan mengisinya lagi. “Ah, kau semakin membuatku bingung,” sambungku.
“Aku akan bantu kau sediakan Standby Letter of Credit. Aku punya koneksi di Eropa yang sanggup bantu itu.”
“Apa dasarnya mereka mau sediakan Standby Letter of Credit? Itu kan sama dengan jaminan cash?”
“Aku akan gunakan documen sketsa pembiayaan yang kau olok-olokan kepada AMC itu. Feasible kok untuk dapatkan SBLC dari bank di Eropa.” 
“Aku rasa, tidak tepat memakai sketsa pembiayaanku itu. Jangka waktu SBLC hanya satu tahun sementara  exit strategiku butuh waktu lima tahun untuk secure.”
“Engga ada masalah!” Kata Ester dengan cepat.
“Aku tidak mengerti.”
“Dengar! Begini strateginya. Coba yakinkan bank di Singapore ihwal rencana bisnismu itu. Yakinkan mereka bahwa creditmu akan dijamin oleh SBLC yang diterbitkan oleh first class bank di Eropa.”
“Kalau mereka sudah yakin?”
“Itu urusanku selanjutnya.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Ingat loh, Jaka. Aku ini Banker! Aku punya reputasi untuk meyakinkan perbankan biar membantumu dengan sketsa yang kau ajukan.”
“Kira-kira apa?”
“Nanti sajalah,” Ester tersenyum sambil meneguk kopi.
“Kenapa tidak kini saja sih, kasih tahu aku?”
“Percayalah padaku, Jak. Nanti kau akan tahu sendiri. Ok?” Ester mencubit lenganku. “Kamu selalu memaksa, ya?!”
“Ok lah. Aku percaya kamu. Dan akan selalu percaya.”
Pagi itu juga saya segara menghubungi Budiman. Ester memperhatikanku ketika kami berbicara di telephone.
Clients ku sepakat untuk solusi ini. Dia punya kawan di Singapore yang sanggup dapatkan credit line dengan  jaminan Standby Letter of Credit. Menurutnya, ia harus membuka Special Propose Company sebagai vehicle untuk mengajukan credit.” 
“Benarkah?” kata Ester dengan mata setengah melotot.  Dia nampak bahagia sekali. ”Kalau begitu, tunggu apa lagi? Lakukan segera! Pastikan dalam seminggu sudah sanggup line of credit. Kalau sudah ada Comfort letter dari lender bank. Aku akan segara terbang ke London untuk deal dengan Provider Standby Letter of Credit.”
“Kamu yakin bisa?”
“Yakin!”
“Kenapa?”
“Karena saya Banker, Sayang!” Ester tersenyum.
“Hanya itu?”
“Dan alasannya yakni saya peduli padamu” Ester menepuk bahuku. " Besok liburan naik kapal pesiar ya. Mau ?"
Aku mengangguk. Usai sarapan pagi kami memutuskan untuk membeli  ticket kapal pesiar berkeliling di perairan Hong Kong. Cara murah menikmati hari libur.
***
Di geladak kapal, kami duduk memandang  maritim di bawah sinar bulan. Tidak ada yang kami bicarakan. Walau usia menjelang empatpuluh tahun, namun Ester masih nampak cantik. Tidak kalah dengan perempuan berusia tigapuluhan. Kecerdasannya sebagai Banker di forum keuangan kelas dunia tidak perlu diragukan. Bagaimanapun Ester yakni sahabat yang selalu ada untukku. 
“Aku harus pulang sebelum tahun baru. Sudah hampir setahun saya di sini. Semoga solusi yang tiba dari mu sanggup sukses,” kataku.
“Aku akan melaksanakan segalanya untukmu, Ja.” 
“Thanks. Kau yakni sahabat terbaikku.” Kugenggam jemarinya. Ester memejamkan mata, membisikkan sebuah kalimat, “aku tahu betapa berat tantangan yang kau hadapi, Ja. Kamu harus tegar, ya? Bukankah semua ini kau lakukan demi sahabatmu?”
“Ya. ia sahabat terbaikku. Aku lakukan ini tanpa dibayar apa pun. Aku tulus. Karena ini  menyangkut perbaikan nasip ribuan buruhnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kasus ini gagal. Mungkin ke depan, arus investasi di Indonesia akan semakin sulit. Entah jadi apa masa depan negeri kita nanti, Ester!”
“Kini kenyataan yang ada sesudah krisis moneter tahun 1998, tidak ada lagi yang sanggup diperlukan dari negeri kita. Infrastrukur rusak dan tidak memadai untuk menampung arus investasi. Aturan dan aturan tidak konsisten. Sumber daya insan yang rendah kualitasnya. Dan, banyak lagi kenyataan yang bila diungkap akan menciptakan siapapun berpikir seribu kali untuk menanamkan uangnya di Indonesia,” Kata Ester
Aku membisu tanpa reaksi. Sekuat apapun usahaku, namun begitulah kenyataan yang ada di Indonesia. Ester  berusaha menyunggingkan senyum dan menggenggam jemari tanganku dengan lembut. Sekedar menguatkanku biar tegar menghadapi kenyataan.
 “Semoga Budiman sukses mendapat credit line?” kataku.  
Ester  menatapku sambil tersenyum. “Yah, semoga,…”
“Jak, bila gagal, pulanglah dan hadapi kenyataan ini dengan tegar. Keluargamu membutuhkan hadirmu. Jangan larut dalam kegagalan. Ingat bila satu pintu di tutup Tuhan alasannya yakni rahmatnya maka akan selalu  ada dua pintu lain dengan kasih sayang Nya, Ya kan ? Kamu orang baik dan berniat baik untuk sahabatmu. Tidak ada yang salah padamu, Jak. Aku yakin Tuhan akan melindungi dan menunjukkan yang terbaik untukmu,” ucap Ester lagi. Aku tahu ia sedang berusaha meyakinkanku untuk tetap tegar menghadapi kenyataan bila situasi terburuk datang. Kapal pesiar yang kami tumpangi terus melaju tanpa peduli. Suara gemuruh yang ditimbulkan oleh mesin penggeraknya, sama ributnya dengan isi kepalaku. 
Menjelang dini hari kapal pesiar itu mulai merapat ke dermaga. Meninggalkan buih-buih yang pecah di perairan Hong Kong.  Gedung-gedung pencakar langit menyambut kami tiba di depan sana. Sebuah kota yang sibuk, dengan manusia-manusia penuh ambisi dalam perjuangan menguasai dunia.
“Kembali ke hotel?” tanya Ester. Aku hanya mengangguk. “Antar saya ke apartemen, ya?” pinta Ester kemudian, sambil memagut tanganku  mesra. Aku tersenyum. Wanita memang  begitu bila ada maunya. Di dalam taksi, Ester semakin erat memagut tanganku sambil merapatkan tubuh. Dia menyandarkan kepala ke bahuku. Hong Kong di bulan Desember  hadir dengan suhu udara yang dingin. Kabut tipis turun membawa uap air yang lembab. Aku menghela nafas, memastikan diri bahwa saya masih berkesempatan hidup di dunia ini. Dengan setumpuk tanggung jawab yang harus saya hadapi dan selesaikan.
Dari dermaga, taxi yang kami tumpangi melaju ke arah Kowloon. Setelah melewati torowongan, taksi jenis limousine  itu berbelok ke arah Hongham. Mobil itu pun berhenti di Harbour Front View Horison, daerah tinggal bergengsi di area Kowloon. Di sinilah Ester tinggal dengan segala kemewahannya sebagai seorang fund manager dengan standar honor enam digit. 
Dari jendela apartemen, terlihat panorama Hong Kong bertabur lampu warna warni membias di permukaan laut. Dari kejauhan nampak sebuah kapal sedang melaju lambat, di hiasai lampu terang berkilauan. Aku menggumam dalam hati, tata ruang apartemen ini diatur dengan sangat mewah. Setiap titik dalam setiap sudut ruang, sangat diperhitungkan. Jendela-jendela berkaca besar diarahkan biar si penghuni apartemen sanggup menikmati panorama dan keindahan maritim Hong Kong. Sebuah apartement yang di desain khusus bukan hanya sebagai tempat beristirahat namun juga sebagai tempat refreshing. Dari sudut mata saya melihat Ester  tersenyum penuh arti, namun saya tak peduli. Aku hempaskan tubuhku di atas sofa yang empuk. Berharap beban malam ini pun ikut ambruk bersama tubuhku.
Sinar lampu menyelinap masuk dari balik tirai. Malam  telah bergitu renta namun kegundahan tak beranjak pergi. Aku berusaha keras untuk tetap di sofa. Senyum manisnya berputar-putar di pikiranku. Sekuat tenaga saya berusaha mengalihkan pikiran ke hal lain namun justru wajah Ester yang kian lekat berkumpul di otakku. Semakin usang semakin detail bayangan ihwal dirinya. Wajah kaukasia dengan badan tinggi semampai dan kulit putih higienis menyerupai susu. Setiap kali ia tersenyum, lesungnya yang imut muncul dari kedua pipinya. Belum lagi cara bicaranya yang lembut, seolah mempunyai medan magnit yang menarik setiap hati untuk mendekat. Ditambah kerlip matanya itu, dengan sorot yang berpengaruh memancarkan keindahan pribadinya yang berbaur dengan kecerdasan luar biasa. Belum lagi ketika tubuhnya yang ideal itu, melenggok berbalut lingering. Ester adalah  bentuk dari kumpulan keindahan yang terjebak dalam satu raga manusia. Setiap kepingan tubuhnya mempunyai tugas untuk menegaskan bahwa ia yakni perempuan sempurna. Duh, kenapa bayangan ini tak sanggup hilang? 
Ester yakni sahabatku yang seharusnya kujaga kehormatan persahabatan ini tanpa menyentuhnya, bisik hatiku mencoba menetralisir memori ihwal Ester. Aku merenungkan peperangan antara nafsu dan hatiku. Terbayang perilaku Ester yang selalu berusaha dengan segala cara biar saya merasa nyaman bersamanya. Namun, setiap kali pikiranku terasa ingin menyerah, setiap kali pula hati nuraniku memenangkan pertarungan. Aku putuskan untuk kembali ke Hotel dengan pikiran segar. Siap bertarung untuk putaran berikutnya.



Sumber https://bukuerizelibandaro.blogspot.com/

Memburu Harta (27)


Han memintaku mendapatkan telephon dari Huang yang sedang berada di New York.
“Hi, Jaka,” terdengar bunyi Huang di seberang. “Apakah kau merasa nyaman di sana?” 
“Sangat nyaman. Terima kasih.”
“Kami sudah mengajukan legal action di pengadilan New York kemarin.”
“Bagaimana kira-kira hasilnya?
“Masalah menjadi rumit lantaran tuntutan kita dilengkapi bukti fund confirmation dari US33. Mereka mempertanyakan bagaimana kita mendapatkan fund confirmation. Tapi itu bukan urusan kita. Karena sistem di US memang memungkinkan kita untuk mendapatkan fund confirmation.”
“Oh begitu. Lantas?”
“Fidelity group tetap mempertanyakan. Namun saya tahu, pihak US Treasury membenarkan akan hak kita. Semua ini ialah system. Semua berjalan secara otomatis. Anda tahu kan, bahwa kekuatan mata uang Amerika sesungguhnya lantaran kekuatan system. Di mana The Fed sebagai pelaksana dan US Treasury sebagai regulator dan penguasa mata uang. Kedua pihak tidak pernah mencampuri urusan masing-masing. Itulah yang menciptakan US dipercaya. Sehingga mata uang US dollar menjadi pegangan bagi semua negara di dunia.” 
Aku mendengarkan klarifikasi Huang dengan seksama sebelum akibatnya saya menyhut, “Dan lagi, US Treasury tidak pernah tahu atau terlibat dalam forfaiting aset. Itu ialah tanggung jawab The Fed sebagai direktur deposit trust. US treasury mengakui transaksi yang dilakukan di Swiss hanya menurut ketentuan dari US 33. Itu saja!” 
 “Kau benar sekali. Mereka kini menyadari bahwa kita bukanlah pihak yang gampang ditaklukan.”
“Ya, saya tahu. Bagaimanapun mereka  tidak ingin menimbulkan somasi itu untuk merusak system yang mereka miliki.” Kataku girang.
“System apa?” Terdengar bunyi Huang setengah bertariak. “Kita tidak pernah mencoba merusak system mereka. Kita hanya mengikuti system yang mereka punya dan menerima laba dari sytem itu. Itu saja.”
“Ya! Yang saya kawatirkan bila ada janji gres antara The Fed dan US Treasury khusus wacana problem ini.” 
“Sejak RUU Kennedy ditolak oleh senate, regulasi US tidak pernah mengakui keberadaan decade asset. Artinya US tidak pernah menerima laba apapun dari decade asset itu,” Kata Huang. “Lantas apa yang harus disepakati diantara mereka? Menurutku, kasus ini sangat besar pengaruhnya bagi kelangsungan The Fed. Kita akan mendesak pengadilan untuk memaksa The Fed mengakui keberadaan aset ini menurut fund confirmation yang dikeluarkan US33,” terang Huang yang justru membuatku semakin maklum, bahwa group fidelity sudah terjebak dengan kebohongan yang mereka buat sendiri.
“Ya, jikalau begitu akui sajalah. Toh, aset itu secara aturan hanya terdaftar tapi tidak pernah settle mendukung system moneter US.” Kataku. “ Keliatanya memang rumit ya?”
“Aku menerima informasi bahwa Madam Lyan sebagai Senior Advisory dari US Treasury. Dia telah ditugaskan untuk melobi kita secara resmi.”
“Wow, bagus! Sekarang bola ditangan Anda. Kita bisa selesaikan kasus ini diluar pengadilan. Ya kan? Kira-kira apa deal-nya?”
 “Mereka minta kita mencabut gugatan, dengan mengakui decade asset yang ditempatkan sebagai jaminan forfaiting trading kegiatan ialah illegal. Sebagai gantinya, kita akan mendapatkan dana sebanyak nilai rekening trading yang diblock. Dananya berasal dari sumber lain. Kasus selesai,” kata Huang kemudian.
“Benarkah itu? Artinya jumlah yang akan kita terima tetap sama yaitu senilai hasil transaksi?”
“Ya. Transaksi yang kemudian dinyatakan batal menurut kesepakatan.  Dan semua pihak harus menandantangani Non Disclosure Agreement.” 
“Apakah Anda setuju?” kataku bingung. Kalau ini disetujui, maka tahulah saya bahwa Naga Kuning hanya berpikir soal uang.
“Baiklah Jaka, nanti kita sambung lagi.” Kata Huang menutup pembicaraan via international phone yang aman.
***
Pagi itu, Han tiba ke paviliun tempatku menginap. Dia membawa kabar tenteng Lien.
“Tadi, Lien menelepon. Mereka akan mendarat di Beijing besok malam.”
Aku terkejut sambil berdiri dari tempat dudukku. “Benarkah?”
“Ya.”
“Oh. Bagus.” Aku tersenyum senang. Sudah dua ahad lebih saya berada dalam penantian di paviliun ini.
“Tapi, Anda di minta pergi ke Hong Kong hari ini.”
Aku mengernyit. “Mengapa tidak menunggu hingga mereka tiba saja? Kenapa harus buru-buru?”
“Aku tidak tahu, Pak Jaka.”
“Baiklah.”
“Nah, jikalau begitu silahkan bersiap-siap,” kata Han sambil mengeluarkan telepon. Kemudian berbicara dengan seseorang. “Dalam satu jam, supir akan menjemput Anda menuju bandara. Tiga orang team kami akan mendampingi Anda selama dalam perjalanan.” 
Han menyerahkan sebuah laptop berwarna hitam. “Laptop ini terhubung dengan satelit kami. Artinya, Anda sanggup memakai access ke Fed System dengan memakai laptop ini. Darimana pun Anda mengaccess, para hacker hanya sanggup mengetahui IP address-nya di Beijing. Lokasi tepatnya tidak akan pernah terlacak secara pasti. Makara Anda tetap kondusif dari deteksi pihak manapun,” terang Han. Aku mendapatkan laptop dan berlalu, namun Han segera menyergah. “Cobalah terlebih dahulu. Aku ingin memastikan, Bapak sanggup mengakses LAN system kami,” kata Han tersenyum. 
Aku menghidupkan laptop dan menekan LINK ACCESS satelite. Tak berapa lama, muncul tanda berupa gambar PC dan satelit yang saling terhubung. 
“Mudah, kan?” kata Han, saya mengangguk.
Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Membawa sebuah tas yang saya kenal betul, itu ialah milikku. “Tas ini gres kami terima kemarin dari orang kami di Hong Kong,” kata Han sambil menyerahkan tas itu. Anda bisa periksa tas ini, kalau-kalau ada yang hilang.”
Aku menyelidiki isi tas tersebut. Semua dalam keadaan utuh. Termasuk dokumen paspor dan yang Artikel Babo. 
“Maaf terlambat menyerahkan. Pihak Hong Kong memerlukan waktu untuk pemeriksaan formal.”
Aku mengangguk dan teringat insiden di Hong Kong. Empat nyawa melayang lantaran pistol Beretta Lien. Aku mengira-ngira, apa yang akan saya lakukan di Hong Kong? Tapi yang jelas, tidak ada hal sederhana. Apalagi kepergianku didampingi oleh tiga orang team Naga Kuning. Aku yakin, mereka ialah pengawal terlatih yang ditugaskan untuk menjagaku.
Di dalam kendaraan menuju Bandara, Han memperkenalkan mereka satu persatu. Aku hanya hafal nama singkat mereka, A Su, A Ming, dan A Ko. Mereka semua sanggup berbahasa Inggris dengan baik. Berusia tidak lebih dari empat puluh. Kesemuanya berperawakan atletis dan sangat ramah.
“Jaga diri baik-baik, Pak Jaka,” pesan Han dikala melepasku masuk ke dalam border. “Aku akan tetap di sini. Kita akan selalu berhubungan,” lanjutnya. Aku merangkul Han. “Tentu, kita akan selalu berhubungan.”
Di dalam pesawat, A Su dan A Ming duduk di dingklik sebaris dengan ku, di seberangnya duduk A Ko. Aku berusaha tidur sementara ketiga orang itu asik membaca buku. Seakan mereka tidak ingin tidur untuk sekedar beristirahat. Walau penerbangan ke Hong Kong membutuhkan waktu cukup lama, sekitar empat jam.
Setibanya di Hong Kong, kami dijemput oleh seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama, Qiu. Dengan sebuah kendaraan beroda empat Van kami melaju keluar dari bandara. Di tengah perjalanan terdengar bunyi A Ming berbicara melalui telepon selular dalam bahasa Mandarin.   Kemudian beliau menoleh ke belakang.
“Kita diikuti,” katanya. Semua mata serentak menatap ke belakang. Nampaknya tadi A Ming dihubungi seseorang, dan memberitahu bahwa kami sedang diikuti.
Aku memperhatikan lewat beling spion, kendaraan yang melaju di belakang kami berwarna putih jenis Merci. Berjarak tidak lebih dari 200 meter di lintasan bebas hambatan. Semua yang ada di dalam kendaraan tampak tenang, kecuali aku. Sepertinya, sesuatu hal akan segera terjadi. Firasatku berkata demikian.
Tak berapa lama, kendaraan berbelok menuju wilayah Aberden di pinggiran kota Hong Kong. Kendaraan meliuk-liuk menyusuri kawasan perbukitan. Jalanan nampak sepi, tidak seramai jalan bebas kendala tadi. Ketika kendaraan berbelok pada satu tikungan, saya memperhatikan kendaraan yang mengikuti kami  masih terlihat. Tepat di belakang Merci itu, terlihat pengendara motor  balap dengan kecepatan tinggi. Kemudian, pandanganku tertutup bukit. Dan, sekejap kemudian, BOOM!! terdengar bunyi ledakan hebat. Jantungku berdetak keras. Kukira, dikala itu wajahku niscaya telah pucat pasi. Namun ketiga pengawalku masih saja damai dan menguasai situasi. 
Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saat menoleh ke belakang, yang muncul dari balik tikungan hanya motor balap yang melesat bagai anak panah. Pengendaranya melambaikan tangan sambil mengacungkan jempol terbalik, menunjuk ke arah bawah dengan tangan kirinya ketika melewati kendaraan kami.
“Apa yang terjadi?” tanyaku gugup.
“Mobil yang mengikuti kita sudah diledakkan,” kata Qiu.
“Diledakan?”
“Ya, granat tangan.”
“Oleh siapa?”
Mereka hanya tersenyum menatapku. Tidak ada jawaban. Dalam pikirnya mereka niscaya mentertawakan kebodohanku dalam hal premanisme. Ah, sial! Rutukku dalam hati. Seharusnya memang saya membisu saja dan tak banyak tanya. Namun saya segera paham, jikalau pelaku peledakan kendaraan beroda empat itu ialah pengendara motor yang gres saja melewati kami.
Kendaraan kembali berbelok masuk ke jalan kecil, berkelok-kelok dan mendaki. Tak berapa usang kemudian, kami hingga di suatu tempat. Sebuah tempat peristirahatan yang luas dengan pagar tinggi. Pintu gerbang terbuka secara otomatis. 
Kendaraan berhenti ketika hingga di depan tangga. Tangga itu melekat pada tebing yang agak vertikal. Kami keluar dari kendaraan beroda empat dan menaiki tangga. Dari atas tangga, terlihat sebuah rumah besar bercat putih. Aku melirik ke bawah, sebuah motor balap di parkir tidak jauh dari Van.
Seorang perempuan keluar dari balik pintu dan, “Selamat datang, Jaka,” Lien menghambur ke arahku sambil merentangkan tangan, memelukku erat. 
“Senang ya, bisa ketemu lagi,” seru Lien dengan wajah merona. Dari jaket yang beliau kenakan, saya tahu bahwa pengendara motor tadi ialah Xiau Lien. Dadaku berdesir menatap perempuan yang dikala ini, berdiri tegak di hadapanku dengan senyum mengembang. Aku gemas!
“Kapan kau kembali dari Amerika?”
“Kemarin.”
“Aku pikir eksklusif ke Beijing.”
“Chang dan Artikel Babo yang ke Beijing.”
“Oh, begitu?”
Lien menarik tanganku masuk ke dalam, diikuti yang Artikel Babo. “Untuk sementara kita akan tinggal di sini,” kata Lien. 
Aku memperhatikan perilaku rombongan yang lain, terlihat sangat menghormati Lien. Ketika Aku duduk bersama Lien di ruang tamu, mereka tetap berdiri tanpa suara. Sepertinya Lien ialah ketua team ini.
“Aku sanggup kabar dari Han, bahwa kau sudah memahami e-banking dengan baik. Juga sudah bisa memakai database Euroclear, Clearstream dan DTCC.”
“Ya. Tapi saya belum bisa mengakses secara online lantaran bukan member.”
“Sekarang kau sudah bisa mengaksesnya. Kita sudah punya cukup dana untuk jadi member.”
“Oh ya?” tanyaku sambil memicingkan mata. Bingung dengan apa yang gres saja di sampaikan Lien.
“Ya. Bukalah laptopmu. Akan kuberikan password membership.”
Aku membuka laptop dan melaksanakan link ke satelit. Dengan cepat koneksi segera tersambung. Lien tersenyum menatapku. “Langsung ke situs Clearstream,” serunya. 
“Ya,” kataku sambil mengetik alamat Clearstream. Lien berdiri dan melangkah ke sebuah kulkas di mini kafetaria ruang tamu. “Minum?” tanya Lien sambil melambaikan sebotol wine.
“Tidak, terima kasih. Air mineral saja.”
Lien mengambil sebotor air mineral dan menyerahkannya kepadaku. “Saatnya kau gunakan acces code untuk masuk ke Fed System,” kata Lien.
“Acces code?” saya terperanjat dan menatap Lien untuk beberapa saat. Namun akhirnya, saya kembali memperhatikan monitor laptop. Dalam hati saya masih bertanya-tanya, bagaimana mungkin Lien tahu keberadaanku sebagai pemegang acces code? Mungkinkah Boy yang memberitahunya? Padahal, saya sendiri tidak yakin bahwa code yang ada padaku sanggup digunakan.
“Cobalah! Apapun hasilnya, kau tetaplah si pemegang takdir. Kami percaya itu,” kata Lien tersenyum menepuk bahuku.
Aku hanya mengangguk, tidak ingin bertanya lebih jauh bagaimana Lien bisa tahu. Yang jelas, saya sedang berada di sebuah lingkungan team yang berpengaruh dan terorganisir dengan baik. Apalagi saya juga pernah mendengar dari Lien bahwa teamnya sudah bekerja sama dengan team Lady Rose dalam operasi ini.
“Access denied.” 
Kalimat itu yang nampak di layar monitor ketika saya memasukkan acces code ke dalam Fed system. Nampak kening Lien berkerut. Matanya melotot ke layar monitor. 
“Tunggu sebentar.” 
Lien kemudian mengambil-alih laptop dari tanganku. Jarinya dengan lincah mengetik sesuatu, masuk ke dalam LAN access. 
“Aku akan melacak routing melalui LAN server kami di Beijing. Mereka mem-block access kita!” Lien menatap mataku dengan mimik penuh kepanikan. 
“Kode yang kau masukin benar. Mereka mustahil mem-block access jikalau kodenya salah,” sambung Lien.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” 
Telepon selularnya berbunyi. Usai mendapatkan telepon, beliau semakin terkejut dan wajahnya nampak tegang. Terdengar beliau bicara kepada ketiga orang teamnya dalam bahasa Mandarin. Mereka serentak pergi ke sebuah lemari di sudut ruang tamu. Dari dalam lemari, mereka mengeluarkan sesuatu, ternyata beberapa pucuk senjata. Sepertinya situasi genting akan terjadi.
“Beijing memberitahu, bahwa keberadaan kita di sini sudah terlacak lewat satelit mereka,” kata Lien menatapku tegang.
“Bagaimana mungkin?” sergahku panik.
“Akses yang gres saja kau lakukan, memungkinkan mereka melacak keberadaan kita. Teknologi yang kami sediakan untuk mengacak satelit mereka, berhasil mereka atasi,” kata Lien.
Lien menatap ketiga teamnya yang sedang berjaga di depan jendela, sambil sebentar-sebentar memandang keluar. 
“Mereka niscaya tiba dan itu tak akan lama,” Lien berkata kepadaku dengan wajah dingin. Tak nampak sama sekali rasa takut menyelimuti wajahnya. Terlihat sedikit senyum di wajahnya namun perilaku siaga menghadapi segala kemungkinan jelek tetap tidak berkurang.
“Apakah kau pernah merasa takut?” tanyaku sedikit ragu. Tiba-tiba saya sedikit menyesal lantaran sudah melontarkan pertanyaan itu. Lien menghampiri dan duduk merapat di sampingku, menyandarkan kepalanya ke bahuku.
“Jak,” Lien melirik, “Sedari kecil saya tidak mengenal orang tua. Aku hidup di panti asuhan. Sedari kecil saya di latih untuk bertahan hidup. Saat remaja saya di latih untuk menjadi protector. Setelah bakir balig cukup akal saya di didik untuk setia membela negara. Walau saya pernah sekolah hingga ke Harvard, namun rasa cinta dan bela negaraku tak pernah lekang dalam jiwa. Bagiku, Negara ialah ibu kandung. Partai ialah ayah kandung. Kepada merekalah saya berbakti!”
“Apakah kau percaya wacana Tuhan?”
“Tuhan?” seru Lien.
“Ya.”
“Tentu saja saya percaya! Tapi selama dalam perburuan aset ini, saya mulai berguru banyak wacana kehidupan. Banyak hal yang sulit dipahami dalam usaha ini. Namun berkat budaya kami yang tinggi, yang selalu membuka diri pada hal yang gaib, maka tak sulit bagiku untuk mengenal Tuhan. Apalagi sesudah mengenal kau dan terbukti kamulah orang yang terpilih,” Lien mengangkat kepalanya. Wajahnya lurus, tepat berada di depan wajahku. Beberapa detik lamanya kami salaing pandang dalam diam. Lalu kuberanikan diri untuk bertanya dengaan bunyi lirih,“Bukankah komunis anti Agama. Anti Tuhan?”  
“Itulah persepsi kebanyakan orang wacana Komunis. Komunisme Cina amat berbeda dengan Marx atau Lenin lantaran keduanya menempatkan agama sebagai sesuatu yang unmatter meski dengan jalan tak langsung. Bagi kami, agama menyerupai obor yang berada di luar dan tidak memasuki benda itu seluruhnya. 
Kesadaran kami dari dulu hingga kini secara sosiologis maupun antropologis tak mungkin menjadi materialis menyerupai yang dialami Barat. Yang secara tak eksklusif melahirkan Marxisme di dalamnya. Masyarakat Cina ialah masyarakat yang selalu percaya akan adanya kekuatan lain di luar diri, yang menguasai alam serta isinya. Dan kekuatan ini bersifat gaib. 
Ada banyak sekali kepercayaan di Cina menyerupai animism dan dinamisme. Agama Hindu, Budha, Kristen, dan Islam juga bermunculan dan dianut oleh sebagian penduduk Cina. Teori revolusi Marx hanyalah sebagai metode bukan sebagai dogma. Oleh lantaran itu, Marxisme bagi kami harus dipahami dalam kerangka teoritis. Dan penerapannya amat tergantung pada kondisi masyarakat di mana beliau tinggal. Jadi, yang penting dari Marxisme ialah penerapan metode berpikir Marx, bukan menjalankan hasil berpikirnya. Jadi, tetaplah kami sendiri yang membumikan budaya dan keyakinan kami kepada Tuhan.”
“Oh begitu?”
“Lantas apa persepsi kau wacana Tuhan?” tanya Lien sambil mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Mau tahu?”
“Mulailah dari hal yang sederhana. Setidaknya bagaimana pun kau sudah bisa mengenal Tuhan. Mengenal Tuhan ialah mengenal akan kesejatian cinta. Tentang ketulusan, kesabaran, kesamaan, kebersamaan, rendah hati, keyakinan dan kepercayaan. Semua itu bila menyatu dalam diri kita, sesungguhnya kita sudah mengenal Tuhan secara utuh. Bila sifat tersebut menjauh dan cinta menjadi bersyarat, maka kita tak akan pernah mengenal Tuhan.”
Lien nampak terpesona dengan kata-kataku. “Hal itu tidak gampang kan, Jak?”
“Ya, memang tidak mudah. Tapi yang harus kau ingat bahwa di dalam diri kita sudah ada bekal kehadiran cinta itu. Kita mendapatkannya melalui transfer cinta seorang ibu dan perhatian lapang dada seorang ayah kepada kita. Inilah yang membentuk kita menjadi mahluk sosial sekaligus makhluk moral. 
Setiap dari kita, terlahir dengan sifat religius untuk membaca sesuatu dan mengungkapkannya secara non verbal. Ungkapan non mulut itu tak bisa dijelaskan dengan nalar tapi beliau menjadi bab dasar dari diri kita. Kita sadar sesadar-sadarnya bahwa itu ada. Tapi tak pernah bisa secara utuh menjelaskannya.
Sifat marah, senang dan lain sebagainya yang terungkap dengan bahasa tubuh, itulah spiritual kita. Maka untuk mengendalikan sifat bahagia, marah, murung dan Artikel Babo haruslah dengan cara-cara spiritual pula. Itulah gunanya agama untuk mendidik dan menuntun kita memahami hal yang gaib. Agar kita menjadi tepat sebagai mahluk sosial maupun moral.”
“Hmm..” Lien berdiri dari tempat duduknya sesudah melihat ketiga teamnya yang siaga sesudah melihat sesuatu di luar.
“Mereka sudah datang,” kata A Kok setengah berteriak. 
Lien segera melihat ke arah jendela. Dua buah kendaraan beroda empat van bergerak lambat sebelum akibatnya berhenti tepat di depan gerbang. Delapan laki-laki berlompatan dari dalam kendaraan. Mereka berhasil melompati pagar dan mulai masuk menuju bangunan di mana kami berada.
“Saatnya kau melindungi dirimu sendiri,” kata Lien sambil menyerahkan sepucuk senjata FN  kepadaku. 
“Pegang erat senjata ini dan arahkan pada sasaran,” terang Lien memperlihatkan arahan.
Tiga orang team sudah berada di luar bangunan.  Sementara Lien tetap di ruang tamu bersamaku, menanti dengan tegang kedatangan tamu tak diundang. 
“Apakah tidak sebaiknya kita hubungi pihak kepolisian?” tanyaku.
“Tidak mungkin. Kita harus hadapi mereka sendiri,” kata Lien tegas dengan mata tetap fokus ke arah jendela.
Selang beberapa dikala yang menegangkan. Terdengar teriakan A Kok. Kepalanya bersimpah darah dan jatuh tepat di teras. Sementara A Su dan A Ming segera mundur ke belakang. Sebelum akibatnya mereka berlari ke dalam rumah sambil melepaskan tembakan.
“Tiarap!” teriak Lien sambil melompat menyambarku. Kami bergulingan ke samping sofa. 
Sejenak kemudian, beberapa peluru menembus beling dan membuatnya pecah berhamburan. Sama sekali tak terdengar bunyi desingan lantaran rupanya, mereka memakai peredam. Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Lien menoleh ke samping, melihat A Ming dan A Su meregang nyawa sambil memegangi dada mereka yang tertembus peluru.
“Tetap di sini,” kata Lien yang masih terlihat damai dan tersenyum kepadaku. Lalu beliau berkonsentrasi pada empat orang yang berdiri tepat di depan jendela beling lebar. Di kedua ajun dan kirinya tergenggam pistol. Lien melompat keluar dari jendela beling yang sudah pecah dengan bersalto. 
Aku memperhatikan dari balik sofa. Lien melayang sambil melepaskan tembakan ke arah empat orang yang berdiri dalam deretan sejajar. Memudahkan Lien mengarahkan tembakan untuk melumpuhkan mereka sekaligus. Benar saja, tidak satupun tembakan Lien yang mereleset. Semuanya tepat mengenai target di kepala. Empat laki-laki itu  jatuh tersungkur.
Lien berguling ke samping, kemudian segera bangkit, dengan badan membungkuk, beliau berlari ke bawah untuk menyambut empat orang Artikel Babo.  A Qiu tiba-tiba muncul kembali dari balik tangga sambil berlari ke arahku.
“Cepat! Ikut aku!” teriaknya. Aku mengikutinya setengah berlari menuruni tangga. Di bawah, Lien sudah berada di atas motor balap dengan helm terpasang. Di sisi tangga ada emat mayit lain awut-awutan dengan senjata masih di tangan. Kukira, mereka jadi korban agresi Lien barusan.
Lien segera memacu motornya dengan kecepatan tinggi melewati gerbang. Sementara saya dan A Qiu, mengikuti dari belakang dengan kendaran Van. “Kamu tidak apa-apa?” tanya A Qiu.
“Ya. Aku baik-baik saja.” Jawabku dengan dada bergetar.
“Bagus,” seru Qiu. “Kita akan menuju ke perbatasan Shenzhen.”
Kendaraan kemudian berbelok ke sebuah bangunan yang masih berada di dalam komplek. Di parkiran basement sudah menanti kendaraan lain dengan mesin menyala. Seseorang keluar dari kendaraan dan berganti tempat dengan A Qiu. 
“Nyalakan laptopmu dan tinggalkan di kendaraan itu!” kata A Qiu kepadaku. Aku segera menghidupkan laptop yang dengan cepat terhubung ke satelit. 
“Mereka akan mengira kita masih berada di gedung ini. Aku harus pastikan kita selamat hingga tujuan dengan kendaraan ini,” terang A Qiu sambil melesat keluar dengan kendaraan yang gres saja ditukar.
Lien sudah berada di tempat ketika saya dan Qiu hingga di perbatasan Shenzhen. Hari sudah menjelang sore. Tempat itu berada di resort hotel, di kaki bukit. Sebuah tempat yang sangat indah dengan panorama alam yang asri.
Lien nampak sedikit murung. Namun, di hadapanku beliau berusaha terlihat tetap tenang. Lien  tersenyum ketika saya tiba menghampirinya.
“Kelihatannya sedikit kacau, ya?” kataku memecah kebisuan.
“Ya.Tapi tidak ada masalah,” jawab Lien tersenyum. “Yang penting kau tidak apa-apa, kan?”
“Yah..” saya mendesah panjang teringat akan tiga orang team yang mendampingiku dari Beijing sudah tewas. Sebuah pertaruhan yang tidak murah. Tapi team ini masih tetap sama, damai dan santai. Seolah begitu terbiasa dengan pertarungan semacam ini.
“Kami gagal menembus access mereka. Mereka bahkan sudah melacak keberadaan kami,” kata Lien serius. “Kamu tidak kondusif lagi bersama kami.”
Aku menatap Lien dan melihat raut kekhawatiran di wajahnya. “Waktumu hanya hingga besok pagi untuk segera keluar dari Cina dan pergi ke Singapura,” lanjut Lien.
“Pulang ke Jakarta?”
“Ya.” Lien berlinang air mata.
“Kita tidak gagal, kan?” kataku memegang pundak Lien. Coba menjaga asa yang sedang redup sesudah kejadian itu.
“Berangkatlah besok pagi. Aku akan pastikan team kami di Beijing untuk terus mengacaukan keberadaan kau lewat satelit,” kata Lien mengabaikan pertanyaanku.
“Mereka sangat tangguh. Tapi saya yakin, kita akan menang. Team Lady Rose sudah menanti kedatanganmu di Singapura.”
Aku menduga, bahwa yang dimaksud dengan team Lady Rose ialah Boy Steward. Itu artinya Boy kini ada di Singapura.
“Aku sudah bicarakan problem serangan ini pada Boy, termasuk kegagalan kami melaksanakan access. Mereka punya plan B untuk menuntaskan misi ini. Beijing pun sudah menyetujui. Aku harap semuanya berjalan sesuai rencana,” kata Lien sedikit terbata. Kami saling berpelukan. 
Malam itu, Lien nampak ceria bermain kartu denganku dan Qiu. Aku minta izin untuk tidur ketika jam menunjuk pukul sebelas malam. Ketika terjaga pukul dua pagi, saya melihat Qiu tetap berjaga di ruang tamu. Sementara Lien tertidur di sofa dengan sebuah pistol tergeletak di atas meja. Seraut wajah polos dan lelah tampak di sana. Betapa, perempuan itu telah menjalani hidup yang sangat keras. Sekeras karang di lautan luas. Aku menghela nafas panjang, melonggarkan dada yang tiba-tiba terasa, sesak.


Sumber https://bukuerizelibandaro.blogspot.com/